•  
  • Pusat Informasi FISIP UIN Raden Fatah Palembang
Selasa, 19 Maret 2019 - 20:10:20 WIB
Mencari Polisi di Eropa
Diposting oleh : Fisip
Kategori: Artikel Dosen - Dibaca: 50 kali

Mencari Polisi di Eropa

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.

(Dosen UIN Raden Fatah dan Peserta Utrecht Summer School 2015)

 

            Indikator kebahagiaan dan kenyamanan sebuah tempat, biasanya adalah soal keamanan. Semakin aman negara tersebut, maka semakin nyaman pula tinggal di sana. Negara yang aman dan nyaman, akan berkorelasi pula dengan tingkat ketertiban dan kedisplinan warga negaranya. Bisa dipastikan pula bahwa negara yang tingkat keamanan dan kenyamannya tinggi, maka aparat keamanan juga tidak terlalu diperlukan. Mereka tetap ada, namun jarang terlihat di depan publik. Artinya ada korelasi antara kemunculan aparat keamanan dengan tingkat kenyamanan sebuah daerah. Hipotesis ini agaknya bisa dibuktikan antara realitas di Eropa, khususnya di Belanda, Belgia, Jerman, dan Prancis.

            Ketika suatu kali saya datang ke Belanda, mendarat di Bandara Schipool Amsterdam, langsung dihadirkan dengan gambaran kota metropolitan, kota besar dengan segala kemajuan. Jejeran gedung tinggi, hotel berbintang, seliweran kendaraan mewah (untuk ukuran Indonesia), lalu lalang sepeda, dan orang yang hilir mudik, langsung terlihat. Kendati ramai, namun semua teratur, semua tertib, semua beraktifitas sesuai ketentuan yang ada. Tetapi satu yang sulit ditemukan yaitu, polisi.

            Selanjutnya, menelusuri jalan-jalan di kota Utrecht, sebuah provinsi di Belanda, sama seperti menelusuri jalanan kota Den Hagg, Amsterdam, Brussel (Belgia), Dusseldorf (Jerman), ataupun Paris (Prancis). Jalanan yang mulus, hampir tak ada lobang, seakan-akan semua adalah jalan tol seperti di Indonesia. Di setiap persimpangan selalu ada traffic light atau lampu merah, yang hidup dan mati dalam beberapa detik. Semua pengemudi, baik bus, mobil pribadi, ataupun sepeda, trem dalam kota, bahkan pejalan kaki, berhenti dan berjalan sesuai dengan petunjuk lampu. Tak ada yang menerobos, kecuali beberapa pejalan kaki yang sepertinya sangat terburu-buru. Tapi, tak ada polisi ataupun pos keamanan di setiap persimpangan tersebut.

            Saat memasuki kampus Universitas Utrecht, sebuah perguruan tinggi tertua di Belanda, langsung dihadapkan dengan pemandangan gedung-gedung modern dan berbagai fasilitas terbaik. Universitas Utrecht terbagi dua kampus, satunya di Utrecht Centrum (kampus tertua) dan satunya lagi di De Uithof (khusus mahasiswa S1 dan peserta Short Course ataupun Summer School). Masing-masing gedung dibelah oleh jalan raya yang begitu luas dengan empat pemakaian (area pejalan kaki dan teras gedung, jalur sepeda, jalur orang-orang cacat, dan jalur bus/mobil). Di beberapa area jalan terdapat halte kecil yang menjadi tempat pemberhentian bus untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Setiap bus yang datang akan berhenti di halte, tak ada yang melewati dan tak ada yang berhenti sembarangan.

            Di pinggiran gedung, atau di pinggir jalan tampak ratusan sepeda terparkir, hanya satu atau dua saja yang diselingi oleh sepeda motor. Setiap sepeda ditambatkan ke tiang besi khusus dan dipasang rantai pengaman. Sepertinya ini menandakan bahwa sepeda menjadi salah satu incaran dan kemungkinan sering juga terjadi kehilangan alias ada maling. Tetapi uniknya, tak ada polisi ataupun satpam yang lalu lalang atau mengawasi. Semuanya dibekali pengamanan sendiri-sendiri oleh pemiliknya.

            Pusat keramaian di kota Utrecht adalah daerah Centrum. Disinilah terdapatnya objek wisata semacam kanal-kanal yang dibuat sedemikian rupa. Warga yang ingin bersantai atau berwisata bisa menyewa perahu yang selalu siap setiap saat. Di pinggiran kanal berjejer pula kedai-kedai minum, semacam kafe, tempat warga duduk-duduk santai sambil menikmati minuman yang ada. Di sisi lain kanal, berjejer pertokoan dengan segala macam barang dagangan. Tak pelak, daerah ini adalah daerah yang ramai dan penuh dengan berbagai karakteristik manusia. Ada yang berasal dari Belanda sendiri, daerah Eropa lainnya, Afrika, Amerika, dan tentu saja dari Asia.

            Pada daerah Centrum juga terdapat terminal bus dan stasiun kereta api, yang menghubungkan penduduk ke berbagai kota dan daerah lain di Belanda dan juga Eropa. Kita bisa langsung naik bus atau kereta api ke Brussel (Belgia), Paris, Swiss, Spanyol, dan daerah Eropa lainnya. Pertanyaan kemudian adalah, adakah polisi di sini? Nah, sejauh perjalanan yang dilakukan baru disinilah polisi ditemukan, yaitu di sekitar stasiun kereta api. Tetapi jumlahnya tidaklah banyak, paling sekitar 5 orang. Hanya di stasiun kereta api, tidak di terminal bus ataupun ditempat wisata lainnya.

            Hal yang sama juga terlihat di Brussel belgia. Semua jalanan yang dilalui, sangat sulit menemukan polisi. Baik di terminal bus, di objek wisata andalan Belgia seperti Grand Palace, pusat penjualan coklat, istana raja, tugu atomium, dan daerah lainnya, hampir tak ada polisi yang ditemukan. Kondisi yang sama juga terlihat di Jerman, khususnya di Dusseldorf. Jalanan terlihat lengang dan lancar, teratur, tertib dan tak ada aparat keamanan. Sedikit perbedaan hanya ada di Paris, khususnya di Menara Eifel, disitulah baru ditemukan aparat kemanan. Uniknya kendati aparat keamanan sangat jarang terlihat di berbagai tempat keramaian, namun jika mereka ada di sebuah tempat, seperti di Eifel, penampilan mereka sangat terlihat profesional. Bersenjata lengkap, tanpa senyum, dan tak mau sedikitpun diajak bicara. Posisinya selalu siaga. Agaknya ini berkaitan dengan posisi Eifel sendiri sebagai objek vital yang bersejarah.

            Akan tetapi, jika di Eifel ditemukan aparat keamanan bersenjata lengkap, justru di daerah keramaian lain, seperti pusat perbelanjaan Lafayette, pasar tradisional, persimpangan jalan, polisi tak ada. Agaknya ini mengindikasikan bahwa memang daerah-daerah tersebut tak diperlukan polisi. Kalaupun ada sifatnya hanyalah patroli sesaat, bukan rutinitas penjagaan di satu lokasi.

            Ketidakhadiran polisi di berbagai ruang publik atau tempat-tempat umum, agaknya menjadi fenomena biasa di Eropa. Tidak hanya polisi, aparat keamanan lokal, semacam Satpam atau Satpol PP di Indonesia, juga tidak ditemukan. Pengalaman ketika di Universitas Utrecht, tidak ditemukan yang namanya satpam di kampus ini. Security memang ada, tetapi bukan sebagai penjaga pintu masuk, namun justru menjadi resepsionis.

            Kondisi yang berbeda tentu saja di Indonesia. Sepanjang jalan raya, terutama hampir di setiap persimpangan, khususnya di lampu merah jalan yang sibuk, dipastikan ada polisi. Di setiap perkantoran, hampir selalu ada yang namanya Satpam. Di setiap tempat parkir, pasti ada tukang parkir. Uniknya pula, kendati sudah sedemikian banyak aparat keamanan, justru pelanggar aturan juga tinggi. Sebaliknya di Eropa, kendati aparat keamanan tidak ada, pelanggar aturan juga hampir tidak ada.

            Persoalan kesadaran dan ketaatan publik terhadap aturan, agaknya menjadi kata kunci pada kondisi ini. Tidak ada pengecualian, tidak ada keistimewaan, semua memiliki posisi dan perlakuan yang sama. Ini kemudian menjadi penyebab utama mengapa di Eropa tidak diperlukan banyak polisi di ruang publik. Kalau toh semua sudah teratur, semua sudah tertib, tentu saja tidak perlu lagi dijaga sedemikian rupa. Sebaliknya, jika pelanggar aturan memang banyak, maka disitulah penegak hukum perlu hadir.

            Sebuah otokritik bagi kita semua, terutama warga negara Indonesia. Jika di persimpangan lampu merah, selalu saja dilanggar, jika kebut-kebutan masih menjadi kebiasaan, jika saling serobot tetap saja dilakukan, jika aturan tetap tidak dipatuhi, parkir kendaraan sembarang tempat, maka tidak usah kecil hati kalau kita tetap dikatakan sebagai warga negara kelas dua, bahkan kelas tiga. Sebab salah satu indikator bangsa yang sudah dikatagorikan maju adalah ketaatan pada aturan dan disiplin. Tidak usah rumit-rumit bicara kepastian hukum, korupsi, polisi yang tidak profesional, menyalahkan pemerintah, dan sebagainya, tapi cukup berkaca pada diri sendiri saja, apakah kita sudah menaati aturan yang paling sederhana sekalipun, misalnya aturan lalu lintas? Apakah kita sudah taat untuk buang sampah, parkir pada tempatnya, ataupun menghargai pejalan kaki? Jika tidak, maka itulah ciri-ciri warga negara belum berpikiran maju, dan polisi tetap diperlukan.

*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di HU Berita Pagi, 26 Agustus 2015



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)